Syi’ah dan Abdullah bin Saba’

Al Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahulloh [1]

Dengan berjalannya waktu dan peristiwa, nama Syi’ah kemudian menjadi istilah khusus bagi yang menunjukkan loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dan keturunannya (Ahlul Bait) dan pihak yang meyakini beragam aqidah tertentu yang diadopsi dari pemahaman sesat Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Mereka menyusup ke dalam tubuh muslimin guna mengaburkan dan merusak prinsip dan aqidah-aqidah Islam. (Asy-Syi’ah wa At-Tasayyu’, hal. 31).

Abdullah bin Saba’ dahulu adalah seorang Yahudi yang berasal dari Shan’a, Yaman. Ibunya adalah Saudaa’ (wanita hitam), dia biasa disebut dengan Ibnu Saudaa’. Pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu, dia pura-pura masuk Islam dengan tujuan merusak Islam dari dalam. Menebarkan ragam paham dan aqidah sesat dan menghembuskan nafas kebencian kepada khilafah ‘Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu, mencela dan memprovokasi massa untuk melakukan gerakan pemberontakan.

Ibnu Saba’ pun mengelilingi wilayah-wilayah kekuasaan Islam untuk mengkampanyekan misinya, dia mulai dengan negeri Hijaz, lalu Basrah, Kufah, kemudian Syam namun dia tidak berhasil menghembuskan apa yang menjadi tujuannya hingga dia diusir dari Syam.

Akhirnya, Abdullah bin Saba’ masuk wilayah Mesir dan tinggal di tengah-tengah penduduk Mesir menampilkan ibadahnya dan kebaikan-kebaikannya. Di sanalah dia mendapatkan sambutan dan respon dari masyarakat Mesir, dia pun mulai menebarkan makar kejinya, menghembuskan paham sesatnya dan mengkampanyekan misi jahat.

Awal mula yang dia hembuskan adalah, “Sungguh aneh! Seseorang yang meyakini Isa bin Maryam ‘alaihis salam akan kembali (turun) ke muka bumi (di akhir zaman) tapi dia mendustakan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam kembali ke muka bumi padahal beliau lebih berhak kembali daripada Isa bin Maryam!!” Masyarakat Mesir pun menerima paham sesat ini dan menyebarluaskan di kalangan mereka.

Inilah paham roj’ah pertama yang dihembuskan Ibnu Saba’ yang kemudian dia lanjutkan keyakinan ini pada Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu, keturunan-keturunan beliau dan imam-imam ahlul bait. Dia sebarkan paham bahwa mereka semua akan roj’ah (kembali) hidup di muka bumi untuk memerangi musuh-musuhnya.

Setelah paham pertama sukses tersebar, Ibnu Saba’ menghembuskan paham sesat berikutnya, “Dahulu ada sekitar 1000 nabi, masing-masing nabi memiliki washiy (yang ditunjuk sebagai pengganti nabi). Ali bin Abi Thalib adalah washiy-nya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bila Muhammad adalah penutup para nabi maka Ali adalah penutup para washiy.” [2]

Paham sesat inipun dengan cepat merambah dan menjalar ke tubuh muslimin terutama yang memiliki loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. Merekapun memuji dan mengelu-elukan Ibnu Saba’ sebagai pembela Ali. Pada masa kekhilafahan Ali diapun termasuk golongan yang dekat. Bahkan disebutkan dalam sebagian kitab sejarah, Ibnu Saba’ diminta duduk di bawah mimbar tempat Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu berkhutbah. (Riwayat Asy-Sya’biy, dinukil oleh Abdul Qadir bin Thahir al-Istirayiniy dalam kitabnya Al Farqu bainal Firaq, hal. 178 cet. Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon, tanpa tahun).

Mengambil kesempatan di posisi yang dekat inilah dia mengembangkan paham sesatnya tentang Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. Diapun mengkampanyekan bahwa Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu adalah Nabi, bukan Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, Jibril ‘alaihis salam telah berkhianat dalam menyampaikan wahyu [3]. Bahkan dia juga menebarkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu adalah tuhan.

Tatkala Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu terbunuh, Ibnu Saba’ dan pengikutnya (Saba’iyyah) tidak percaya beliau telah mati, mereka yakin Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu diangkat ke langit sebagaimana Isa bin Maryam ‘alaihis salam dan akan turun dari langit menguasai seluruh dunia. Sebagian Saba’iyyah meyakini Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu adalah Al-Mahdi yang dinanti.

Sebagian yang lain meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu ada di awan, petir adalah suaranya dan kilat adalah cambuknya. Sebagian mereka bila mendengar suara petir spontan mengatakan, “Atasmu keselamatan wahai Amirul Mukminin.”

Mayoritas paham ghuluw tersebut tersebar di masa hidup Khalifah Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dan lebih dahsyat lagi fitnahnya sepeninggal beliau.

Tatkala paham kufur tersebut sampai ke telinga sang khalifah Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu, beliau pun memerintahkan mereka untuk dihukum dengan hukuman berat, yaitu dibakar hidup-hidup dalam sebuah parit, sementara Ibnu Saba’ diasingkan di wilayah Sabaath-Mada.

Dari Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya (Saba’iyyah) inilah bermunculan sekte-sekte Rafidhah ekstrem (ghulat) dengan ragam paham sesat bahkan kufur, namun semuanya bersembunyi dibalik kedok, “Cinta Ali dan Ahlul Bait”.

Setelah paham itu sukses diapun melanjutkan dengan menghembuskan virus sesat lainnya, “Siapakah yang lebih zhalim daripada seseorang yang tidak menunaikan wasiat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan menyerang washiy-nya Rosululloh?”

Dia juga memprovokasi, “Utsman telah merampas wasiat tersebut tanpa hak, washiy Rosululloh adalah Ali.” Diapun menggalakkan ‘amar ma’ruf nahi munkar dalam artian menghujat dan mencela Khalifah Utsman rodhiyallohu ‘anhu dan segenap umara’ muslimin. Fitnah inipun disambut oleh banyak pihak yang biasa membuat onar dalam negeri, munculah tokoh-tokoh gerakan reaksioner semisal Khalid bin Muljam, Sauda’, dan Kinanah bin Bisyr. Fitnah inipun disebarkan ke seluruh penjuru wilayah Islam dan berujung kepada pemberontakan terhadap Khalifah Utsman dan terbunuhnya beliau rodhiyallohu ‘anhu.

Dengan fitnah ini, Ibnu Saba’ dinyatakan sebagai orang pertama yang mencela shahabat bahkan mencela Abu Bakar, Umar dan Utsman rodhiyallohu ‘anhuma. Hal ini diakui oleh tokoh Syi’ah An-Naubikhtiy, dia berkata, “Dia adalah orang pertama yang terang-terangan mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan para shahabat dan berlepas diri dari mereka semua.” Pernyataan ini juga diumumkan oleh tokoh Syi’ah lain, Sa’ad bin Abdillah Al-Qummiy.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan menukil ucapan Suwaid bin Ghafalah, “Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang terang-terangan mencela Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu ‘anhu”.

Celaan mereka terhadap shahabat berlanjut hingga mereka mencela istri Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dan para pembawa riwayat-riwayat hadits seperti semisal Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu. Nampak dari tindakan ini makar jahat mereka yang sesungguhnya yaitu menikam Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan memberangus syari’at Islam.

______________________________
[1]. Diambil dari tulisan beliau berjudul “Sejarah Syi’ah” di Majalah Qudwah Edisi 23 Vol.02/2014 halaman 6 – 8.
[2]. Para pakar sejarah menyebutkan, semasa Ibnu Saba’ sebagai Yahudi, diapun punya paham bahwa Yahya bin Nun adalah washiy-nya Musa, diapun melakukan hal serupa terhadap Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. [al-Mihlal wan Nihal, hal. 174]
[3]. Pada sebagian sekte Rafidhah ekstrem sampai sekarang bila mereka selesai sholat, mereka mengucapkan “Khoona al-amin” (telah berkhianat al-amin -yakni Jibril-) ke kanan dan ke kiri sebagai ganti salam.

One thought on “Syi’ah dan Abdullah bin Saba’”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *