Syarat-Syarat Diterima Taubat

Al Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahulloh

Audio Kajian kitab Riyadhus Sholihin dengan tema “Syarat-Syarat Diterima Taubat” hari Jum’at tanggal 7 Agustus 2015 di Masjid Al Muhajirin Blok G Kompleks Perumahan Taman Sari Manglayang Regency Cileunyi Kab. Bandung. Narasumber Al Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahulloh:

[32 Kbps]
Syarat-Syarat Diterima Taubat – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

[16 Kbps]
Syarat-Syarat Diterima Taubat – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

[8 Kbps]
Syarat-Syarat Diterima Taubat – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

Penjelasan ringkas: 

Taubat merupakan satu kewajiban dari setiap dosa, dosa apapun itu wajib atasnya bertaubat. Tingkatan terbesar yakni taubat dari kekafiran dan kesyirikan menuju Islam. Tingkatan kedua yakni taubat dari dosa-dosa besar. Tingkatan ketiga yakni taubat dari dosa-dosa kecil.

Al Imam An-Nawawi rohimahulloh menyebutkan, jika dosanya hanya berkaitan dengan Alloh Ta’ala saja maka syarat-syarat diterima taubat dari dosa tersebut antaralain:

1. Berhenti dari kemaksiatan.
2. Menyesal terhadap perbuatan dosanya.
3. Berniat kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut selamanya.

Kalau tidak ada salah satu dari ketiga syarat tersebut, maka taubatnya tidak sah.

Adapun sebagian ulama menyebutkan syarat-syarat diterima taubat ada 5 (lima), antaralain:

1. Ikhlas karena Alloh dalam bertaubat, karena taubat adalah salah satu ibadah.
2. Menyesali kerhadap kemaksiatan yang telah dilakukannya.
3. Berhenti dari dosa-dosa yang telah dilakukannya.
4. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
5. Bertaubat pada waktu diterimanya taubat, ditinjau dari 2 sisi yakni dari sisi manusia maka waktu diterimanya taubat ialah selama ia masih hidup atau sebelum ajal menjemput, dan secara umum yaitu sebelum datangnya hari kiamat.

Dosa berkaitan dengan manusia lainnya,  dia mesti meminta maaf kepada orang yang telah dizhaliminya. Meminta kehalalan kepada orang yang telah dia zhalimi. Beberapa contohnya:

1. Jika kemaksiatannya berupa memukul orang lain, taubatnya mendatangi orang yang dipukulnya itu untuk memberi kesempatan kepadanya untuk memukul. Balasan kejelekan ialah kejelekan semisalnya.
2. Jika dosanya mencaci maki, maka dia bertaubat dengan cara mendatangi orang yang dicacinya tersebut untuk meminta kehalalan.
3. Jika dosanya karena membicarakan kejelekan orang lain tanpa alasan yang jelas, atau ghibah yang terlarang, ada dua keadaan:

Keadaan pertama: 
Jika orang yang dibicarakan tidak mengetahui maka taubatnya berdasarkan pendapat yang rojih yakni cukup menyebut kebaikan-kebaikannya di majelis yang sama.

Keadaan kedua: 
Jika orang yang dibicarakan mengetahui, taubatnya meminta maaf kepada orang yang dibicarakan itu lalu menyebutkan kebaikan-kebaikannya.

Wallohu a’lam bi showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *