Sholat Malam Nabi

Al Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahulloh [1]

Dari Abu Abdullah Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Suatu malam aku sholat (sholat malam -red) bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, (sesudah membaca Al-Fatihah) beliau memulai dengan membaca surat Al-Baqarah. Saya berkata (dalam hati): Mungkin beliau akan ruku’ sesudah membaca seratus ayat, akan tetapi ternyata beliau meneruskan bacaannya. Saya berkata lagi (dalam hati): Mungkin beliau dalam rakaat ini akan membaca surat Al Baqarah seluruhnya lalu ruku, tetapi ternyata beliau meneruskan dan mulai membaca surat An-Nisaa’ dan beliau membacanya sampai selesai.

Setelah itu beliau mulai lagi membaca lagi surat Ali Imran sampai selesai. Beliau membacanya dengan tartil, jika melewati ayat yang mengandung tasbih maka beliau membaca tasbih, jika melewati ayat yang mengandung permohoan maka beliau memohon, dan jika beliau melewati ayat perlindungan diri maka beliau berlindung kepada Alloh.

Sesudah itu, beliau ruku dan membaca “Subhaana robbiyal ‘adhiim” (Maha Suci Robbku yang Maha Agung). Lama ruku’-nya hampir sama dengan berdirinya tadi. Kemudian beliau bangkit dari ruku mengucapkan: “Sami’Allohu Liman Hamidah, Robbanaa Lakal Hamdu” (Alloh mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, hanya bagi-Mu-lah segala puji). Beliau berdiri lama hampir sama dengan ruku’-nya. Kemudian beliau sujud dan membaca: “Subhaana Robbiyal A’la (Maha Suci Robbku yang Maha Tinggi), lama sujudnya hampir sama dengan berdirinya.” (HR. Muslim)

Faidah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits tentang sholat malam nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Hudzaifah ibn Yaman rodhiyallohu ‘anhu:

1. Bolehnya membaca surat dalam Al Qur’an meskipun tidak urutan. Tapi urutan ayat yang satu dengan yang lain harus sesuai, yakni susunan ayatnya wajib berurutan.

2. Panjang dan lamanya sholat malam Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau dalam satu ayat membaca surat Al Baqarah, An-Nisaa’ dan Ali Imran. Bacaan tartil, bertasbih dan meminta perlindungan kepada Alloh. Melewati ayat yang mensucikan Alloh lantas bertasbih. Melewati ayat perlindungan diri maka meminta perlindungan kepada Alloh. Ini hanya berlaku dalam sholat sunnah.

3. Disyari’atkannya berdo’a ketika ruku’. Tidak boleh membaca Al Qur’an dalam ruku’ dan sujud.

4. Apabila tertinggal ruku’ di rakaat pertama sementara sudah masuk rakaat kedua, maka wajib menambah satu rakaat lagi karena rakaat yang tertinggal tidak dianggap. Apabila tertinggal kewajiban dan dilakukan dengan sengaja maka sholatnya batal. Apabila tidak sengaja tertinggal kewajiban maka sujud sahwi.

5. Ucapan “Sami Allohu Liman Hamidah” diucapkan imam dan orang yang sholat sendirian. Ucapan ini tidak diucapkan oleh makmum sehingga makmum cukup mengucapkan “Robbanaa Wa Lakal Hamdu”. Imam dan orang yang sholat sendirian mengucapkan “Sami Allohu Liman Hamidah” dan “Robbanaa Wa Lakal Hamdu.”

6. Bolehnya melaksanakan sholat malam secara berjama’ah (selain di bulan Ramadhan), tetapi tidak dilaksanakan terus-menerus, kadang-kadang saja. Adapun di bulan Ramadhan, disunnahkan untuk sholat malam berjama’ah.

7. Hendaknya bagi seseorang yang sholat malam melewati ayat-ayat rahmat berhenti lalu meminta rahmat kepada Alloh, melewati ayat-ayat jannah (surga) berhenti dan minta kepada Alloh agar kita dimasukkan ke dalam jannah. Melewati ayat-ayat ancaman (e.g. ancaman adzab neraka), berhenti, minta perlindugan kepada Alloh dari ancaman-ancaman itu. Melewati ayat-ayat tasbih, berhenti, mengucapkan tasbih. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bertasbih dan mengulang-ulang tasbihnya, dalam ruku’ dan sujud.

Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Pada suatu malam saya mengerjakan sholat (malam) bersama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau berdiri lama sekali sehingga timbul keinginan jelekku.” Ibnu Mas’ud ditanya: “Apakah yang timbul dihatimu itu?” Ibnu Mas’ud menjawab: “Keiginanku untuk duduk saja dan meninggalkan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut penjelasan hadits Ibnu Mas’ud, masih berkaitan dengan hadits Hudzaifah ibn Yaman rodhiyallohu ‘anhu tentang sholat malam nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:

1. Sekilas tentang Ibnu Mas’ud, nama lengkapnya Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu. Beliau ikut membantu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, dikenal sebagai shahabat yang bertugas menyediakan bantal dan siwaknya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, Qurro’ (pembaca Al Qur’an di kalangan shahabat, dan shahabat yang terkenal dengan postur tubuhnya yang kurus sehingga ada shahabat lain yang menertawakan.

2. Sholat sunnah (termasuk sholat malam -red) boleh dilaksanakan dengan cara duduk meskipun kita mampu berdiri dan sholat sunnah yang dikerjakan duduk pahalanya setengah dari sholat sunnah yang dikerjaka berdiri.

3. Sholat yang dikerjakan dengan cara duduk bagi orang yang udzur tidak bisa berdiri maka pahalanya sama dengan berdiri. Ini berlaku untuk sholat wajib dan sholat sunnah.

___________________________________
[1]. Resume kajian beliau hafizhahulloh di Masjid Agung Cimahi pada tanggal 28 Maret 2015 pembahasan kitab Riyadhus Sholihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *