Sabar dalam Mendidik Anak

Al Ustadz Abu Faruq Ayip Syafrudin hafizhahulloh [1]

Sabar, sebagaimana didefinisikan oleh al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rohimahulloh dan asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullohu ta’ala, ialah seseorang menahan lisan dari keluh kesah dan amarah, menahan jiwanya, dan menahan anggota badan dari memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian (sebagaimana kebiasaan orang-orang jahiliyyah).

Sabar pada diri kita akan menjadi buah yang akan kita petik di akhirat. Sabar dalam mendidik anak akan menjadi tabungan di akhirat. Kita tidak bisa menyamaratakan satu anak dengan anak lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dalam mendidik anak, kita juga tidak boleh membanding-bandingkan antara satu dan yang lain, karena ini akan menjatuhkan si anak itu sendiri. Dibutuhkan kesabaran apabila kita mendapati seorang anak yang bagus hafalannya, sementara ada seorang anak lainnya yang hafalannya sedikit kurang. Atau yang satu cepat menangkap pelajaran sementara satunya lagi lambat.

Bagaimana solusinya jika kita mendapati anak didik kita memiliki keterbatasan (misalnya ada kesulitan menghafal dan lainnya)? Dengan keterbatasan tersebut kita maksimalkan potensi yang dia miliki untuk meraih prestasinya. Inilah yang seharusnya dilakukan. Bukan membanding-banding satu dan lain.

_______________________________
[1]. Faidah daurah di Masjid Agung Cimahi 31 Januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *