Pergaulan dengan Orang Awam

Al Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahulloh [1]

Nasihat indah dari beliau hafizhahullohu ta’ala. Nasihat bergaul atau bermuamalah bersosial dengan orang umum atau awam. Nasihat yang pernah disampaikan oleh Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhori hafizhahulloh tentang masalah pergaulan dengan orang awam.

Kata beliau, “Antum thullabul ilmi jangan terlalu dekat bergaul dengan orang awam, mereka hanya kita kenal secara ma’rifat saja tetapi bukan untuk menjadi teman dekat. Kenapa? Karena tidak ada ceritanya orang yang sehat menularkan kesehatannya kepada orang yang sakit, tetapi sebaliknya orang yang sakit menularkan penyakitnya pada orang yang sehat.

Yang kedua, orang yang bodoh itu tidak terbawa (berilmu -ed) atau jarang sekali mendapatkan manfaat (mengambil pelajaran) dari orang-orang yang berilmu kecuali pada ta’lim dan kajian serta sedikit mendapatkannya dari pergaulan (pertemanan -ed), sehingga jika kita berteman terlalu dekat dengan orang awam dikhawatirkan engkau akan terbawa dengan keawaman mereka [2]. Hal ini sudah pernah dan sudah sering kita saksikan, sampai syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahulloh mengatakan secara makna:

“Contohnya sampai beberapa yayasan, didalamnya ada orang yang tidak memiliki ilmu kecuali ilmu tentang manajemen, tetapi dia mengatur orang yang berilmu, ustadz ini, ustadz itu diatur oleh dia seluruhnya padahal dia tidak memiliki ilmu. Ini keterbalikan dunia.”

Kata Syaikh Abdullah al-Bukhari, “Semestinya mereka yang dalam keadaan minta bimbingan kepada orang yang berilmu, tetapi keadaan sekarang sutuasinya menjadi terbalik. Bahkan orang yang berilmu akhirnya yang selalu dalam keadaan mengimbangi (mereka -ed), maka imbangilah dalam masalah yang sifatnya mubah, silakan itu dibolehkan. Apalagi perkara-perkara yang baik dari sisi dunia yang antum lebih tahu tentang dunia tersebut, maka itu silakan.

Tapi kalau untuk masalah agama jangan pakai perasaan tidak enak-tidak enak, katakan yang hak adalah hak dan yang batil adalah batul atau dengan ungkapan ‘afwan kalau yang ini kami tidak bisa, kalau masalah ini haram’. Maka hal inilah yang banyak akan kita hadapi nanti, sehingga dari awal harus kita pegang nasihat para ulama untuk istiqomah diatas tauhid dan sunnah dalam bidang apapun, tidak perlu pakai perasaan enak atau tidak enak.

Kalau urusannya masalah agama, apalagi masalah halal dan haram, tidak ada tawar menawar lagi, sampai-sampai masalah yang sifatnya baik saja, artinya perkara sunnah, belum sampai wajib, kita harus hormati, kita bela dan kita agungkan, apalagi yang sifatnya wajib. Demikian pula sebaliknya yang sifatnya makruh, harus kita hindari apalagi yang bersifat haram.”

Na’am barakallohu fiikum ini yang bisa ana sampaikan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semuanya.

______________________
[1]. Dari WA Grup Pecinta Al Haq dalam WA Forum Berbagi Faidah, dengan beberapa edit dari redaksi.
[2]. Permasalahan ini sebagaimana yang telah ditanbih oleh Al Ustadz Muhammad ketika memeriksa transkrip tulisan ini, bahwa penjelasan ini hanya dalam rangka penekanan terhadap mengambil teman dekat dari orang yang tidak berilmu atau awam, bukan masalah pembatasan dari sisi dakwah atau ekslusif, karena dakwah itu umum untuk seluruh kaum muslimin bahkan untuk seluruh manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *