Larangan Menyembelih untuk Alloh di tempat Penyembelihan Orang Musyrik

Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz hafizhahulloh

Berikut audio kajian beliau hafizhahulloh pembahasan kitab “Mulakhash fii Syarh Kitab At-Tauhid” karya Asy-Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahulloh Sabtu, 7 Muharram 1438H – 8 Oktober 2016M di Masjid Agung Cimahi dengan tema “Larangan Menyembelih untuk Alloh di tempat Penyembelihan Orang Musyrik”:

[48 KBPS]
Larangan Menyembelih untuk Alloh di Tempat Penyembelihan Orang Musyrik
Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz

[32 KBPS]
Larangan Menyembelih untuk Alloh di Tempat Penyembelihan Orang Musyrik
Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz

[16 KBPS]
Larangan Menyembelih untuk Alloh di Tempat Penyembelihan Orang Musyrik
Al Ustadz Abu Yahya Mu’adzĀ 

01-larangan-menyembelih-untuk-alloh-di-tempat-penyembelihan-orang-musyrik

RINGKASAN PEMBAHASAN

Dimulai dengan pembahasan Ayat Alloh Ta’ala dalam Surat At-Taubah 108 (artinya): “Janganlah kamu sholat di masjid itu (masjid dhirar) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih baik kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang membersihkan diri. Dan Alloh menyukai orang-orang yang membersihkan diri.”

Kaitan ayat di atas dengan bab ialah menyamakan semua tempat penyembelihan orang musyrik (untuk selain Alloh) dengan Masjid Dhirar, yang dibangun oleh kaum Munafiqun dengan tujuan bermaksiat dan mengingkari Alloh dan Rosul-Nya. Faidah yang bisa kita ambil dari ayat tersebut:

  • Larangan menyembelih untuk Alloh di tempat yang disediakan untuk penyembelihan bagi selain Alloh (tempat penyembelihan orang musyrik), disamakan dengan larangan sholat di Masjid yang dibangun di atas kemaksiatan kepada Alloh yakni Masjid Dhirar.
  • Sunnahnya sholat bersama orang-orang sholih lagi membersihkan diri.
  • Penetapan bahwa Alloh memiliki sifat Mahabbah (mencintai) sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya sebagaimana seluruh sifat-Nya yang lain.
  • Motivasi dan anjuran untuk menyempurnakan wudhu dan membersihkan diri dari najis.
  • Niat berpengaruh terhadap tempat.
  • Disyariatkannya menutup jalan menuju syirik.

Pembahasan berikutnya ialah hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam riwayat Abu Dawud dari Tsabit bin Adh-Dhahhak rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Seseorang bernadzar untuk menyembelih unta di Buwanah lalu ia bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Apakah di sana ada berhala jahiliyyah yang disembah?” Para shahabat menjawab: “Tidak.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah di sana biasa dilakukan ied (acara berkumpul) Jahiliyyah?” Para shahabat menjawab: “Tidak ada.” Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penuhilah nadzarmu! Sesungguhnya tidak boleh dikerjakan sebuah nadzar dalam rangka bermaksiat kepada Alloh dan tidak boleh pula dikerjakan sebuah nadzar dalam perkara yang bukan menjadi hak miliknya.”

Faidah yang bisa diambil dari hadits di atas:

  1. Larangan untuk menunaikan nadzar di tempat yang telah ditentukan jika pernah terdapat berhala di dalamnya sekalipun berhala tersebut saat ini sudah tidak ada lagi.
  2. Larangan menunaikan nadzar di tempat yang pernah dilakukan acara perkumpulan Jahiliyyah sekalipun acara tersebut tidak dilakukan lagi di tempat itu.
  3. Seorang mufti meminta keterangan secara rinci dari penanya atau orang yang meminta fatwa sebelum mengeluarkan fatwa.
  4. Menutup jalan-jalan menuju kesyirikan.
  5. Tidak menyerupai kaum musyrikin dalam urusan ibadah dan acara berkumpul mereka sekalipun tidak ada niat untuk menyerupai mereka.
  6. Menyembelih untuk Alloh di tempat penyembelihan orang musyrik atau di tempat acara perkumpulan mereka adalah maksiat.
  7. Nadzar maksiat tidak boleh ditunaikan.
  8. Tidak ditunaikan sebuah nadzar yang tidak dimiliki oleh orang yang bernadzar misalnya: Saya bernadzar karena Alloh untuk memerdekakan budaknya si fulan, maka nadzar seperti ini tidak boleh ditunaikan.
  9. Wajibnya memenuhi nadzar yang tidak mengandung maksiat dan dalam perkara yang dimiliki oleh orang yang bernadzar.
  10. Nadzar adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Alloh Ta’ala.

Wallohu A’lam bi showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *