Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah

Al Ustadz Usamah Mahri LC hafizhahulloh

Berikut adalah audio rekaman muhadharah di Masjid al-Muhajirin Slipi Jakarta Barat pada hari Ahad, 30 Agustus 2015, tema “Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah” bersama al-Ustadz Usamah Mahri LC hafizhahulloh:

[versi 8 Kbps]

Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 1)
Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 2+TJ)

[versi 16 Kbps]

Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 1)
Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 2+TJ)

[versi 32 Kbps]

Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 1)
Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah – Al Ustadz Usamah Mahri LC (sesi 2+TJ)

Resume Ringkas
Diantara sikap ahlus sunnah terhadap ahli bid’ah yakni larangan duduk dengan ahli bid’ah yang mencakup:

[A]. tidak musyawarah dengan ahli bid’ah,

[B]. tidak safar bersama ahli bid’ah,

[C]. tidak bertetangga dengan ahli bid’ah (jika memungkinkan). Penilaian pertama masyarakat arab ketika hendak mencari rumah ialah siapa bakal calon tetangga kita. Para salaf telah memberikan bimbingan seperti lebih memilih bertetangga dengan binatang daripada ahli bid’ah dan meninggalkan keramaian Kota Baghdad yang didominasi Syi’ah Rofidhoh.

[D]. Menghajr setiap orang yang menyalahi sunnah, bahkan hal itu dilakukan kepada para pembelanya (loyalisnya) sekalipun mereka menampakkan sunnah. Bukti kefaqihan agamanya dilihat dengan siapa dia berjalan, orang yang bermajelis dengan ahli bid’ah lebih berbahaya daripada ahli bid’ah itu sendiri dilihat dari 2 sisi yakni:

[1]. orang yang bermajelis dengan ahli bid’ah akan menipu orang awam.
[2]. Dengan mendatangi mereka (bermajelis bersama mereka) berarti telah membuka jalan ahli bid’ah ini masuk ke dalam barisan ahlus sunnah.

Jangan hukumi seseorang sampai diketahui dengan siapa dia berjalan. Tidak akan dibahas setelah diketahui tiga hal: dengan siapa dia berjalan, keluar masuk dan bergaul.

[E]. Orang yang duduk bersama ahlus sunnah dan bersama ahli bid’ah sekaligus, berarti dia telah menyamakan antara haq dan batil. Di antara sifat munafik yakni apabila dia bersama mukmin maka dia mengaku bersama mukmin. Jika dia bersama syaithon-syaithonnya maka dia mengatakan bersama mereka. Permisalan orang munafik itu seperti kambing yang kehilangan kelompoknya.

[F]. Larangan membantah atau debat yang tujuannya utuk membela ahlul bathil. Sebagaimana Firman Alloh dalam Surat An-Nisaa’ ayat 107 (artinya) : “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,”

Dalam sesi tanya jawab juga disinggung sedikit permasalahan seputar tahdzir, khulu’, dan bagaimana sikap seorang istri yang bermanhaj ahlussunnah menghadapi suaminya yang bermanhaj MLM (Mutalawin La’ab Makir) dimana sang suami selalu menekannya dan seringkali mengancam lebih memilih menjadi orang awam daripada meninggalkan MLM. Secara umum sesi tanya jawabnya masih berkaitan dengan tema “Larangan duduk dengan ahli bid’ah.”

Disinggung pula tentang orang tua yang berat memasukkan anaknya ke ma’had ahlussunnah karena jarak yang jauh sementara si anak masih butuh perhatian. Al Ustadz hafizhahulloh memberi bimbingan dalam permasalahan ini supaya kita pindah mendekat ke ma’had tersebut. Apabila kita sudah punya pekerjaan di kota asal yang menjadi keberatan tersebut, maka lebih baik tinggalkan pekerjaan kita karena masih banyak pekerjaan yang lainnya. Alloh Ta’ala akan membukakan pintu rezeki bagi siapa saja yang lebih mengedepankan (mementingkan) agamanya.

2 thoughts on “Larangan Duduk dengan Ahli Bid’ah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *