Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-Lebihan dalam Beramal

Al Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahulloh

Berikut audio rekaman kajian beliau pada tanggal 27 Robi’uts-Tsani dan 11 Jumadil Ula 1436H (6 dan 20 Februari 2016) di Masjid Agung Cimahi Jalan Amir Machmud Samping Alun-Alun Kota Cimahi, kajian kitab Riyadhus Shalihin pembahasan Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal.

[64 KBPS]

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam beramal 1 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal 2 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

[32 KBPS]

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal 1 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal 2 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

[16 KBPS]

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal 1 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-lebihan dalam Beramal 2 – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

HADITS KE-1

Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Ada tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Setelah diberitahu, seolah mereka menganggap amal ibadah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam itu hanya sedikit, lalu mereka berkata: “Tapi tidak pantas membandingkan diri kita dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, sebab beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang.”

Kemudian salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya maka saya akan sholat sepanjang malam.” Yang lain berkata: “Saya selamanya akan berpuasa setiap hari.” Yang lain lagi berkata: “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam datang dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi berbicara begini dan begini? Demi Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Alloh dibandingkan kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat malam dan tidur malam, dan aku juga menikahi perempuan. Siapa saja yang benci terhadap sunnahku, maka ia bukan termasuk golongaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

FAIDAH RINGKAS DARI HADITS KE-1

[1]. Amalan yang lebih disukai Alloh adalah sedikit tetapi kontinu (terus-menerus) daripada banyak kemudian capai, bosan hingga membencinya.

[2]. Sikap ketiga orang tersebut berlebih-lebihan dan memberat-beratkan, menyelisihi syari’at. Semangat saja bukan ukuran tetapi yang jadi ukuran ialah tuntunan syari’at. Semangat dalam ibadah harus terbimbing secara syar’i.

[3]. Hadits ini merupakan dalil selayaknya bagi seseorang sederhana dalam ibadah dan sederhana ini juga sesuai dengan bimbingan syari’at, serta selayaknya sederhana dalam segala hal. Bila menyepelekan dia akan melewatkan berbagai kebaikan dan bila berlebihan dia akan bosan, lalu malas, hingga meninggalkan dan membenci.

[4]. Bersifat sederhana dalam ibadah merupakan diantara sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Berjalanlah dalam urusanmu sedikit demi sedikit.

HADITS-2

Dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim)

FAIDAH RINGKAS DARI HADITS KE-2

Di antara sikap melampaui batas dalam ibadah adalah sikap Bani Israil ketika diperintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk menyembelih Sapi Betina, dimana sikap yang ditunjukkan oleh mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan mereka sendiri seperti usia sapi betina, warnanya, dan amalannya. Padahal kalau mereka mencukupkan dengan perintah beliau ‘alaihis salam maka sudah cukup mencari Sapi Betina lalu disembelih.

Hendaknya menjauhi sifat berlebih-lebihan dalam beramal, apabila berlebih-lebihan terhadap ibadah yang Alloh mudahkan maka ia akan binasa. Misalnya seseorang tetap menjalankan puasa ketika sakit keras yang mengharuskan ia makan dan minum sehingga memperparah sakitnya bahkan sampai meninggal dunia. Contoh lainnya dalam majelis ilmu ketika masuk kepada ayat tentang sifat-sifat Alloh mempertanyakan hakikat sifat-sifat Alloh tersebut. Kemudian orang berlebih-lebihan dalam berwudhu sampai lebih dari tiga kali, sementara batas maksimumnya hanya tiga kali, atau berlebih-lebihan dalam mandi junub sampai menghabiskan beberapa ember air.

Makna berlebih-lebihan disini ialah keluar dari batasan syari’at. Adapun bersemangat dalam ibadah selama tidak keluar dari batasan syari’at maka inilah yang ditekankan. Khawarij berlebih-lebihan dalam berjihad sampai mereka membunuh dan memberontak kepada penguasa Muslim.

HADITS KE-3

Dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya agama Islam itu mudah, dan siapa saja yang mempersulit agama maka ia akan dikalahkan. Oleh karena itu senantiasalah berbuat tanpa berlebih-lebihan, dekati kesempurnaan sesuai kemampuan kalian, bersuka hatilah kalian, serta manfaatkanlah waktu pagi, sore, serta sedikit waktu malam (untuk beribadah)!” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat al-Bukhari yang lain dikatakan, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tetaplah berbuat tanpa berlebih-lebihan, dekatilah kesempurnaan sesuai kemampuan kalian, serta manfaatkanlah waktu pagi, sore, serta sedikit dari waktu malam (untuk beribadah). Sedikit demi sedikit akhirnya kalian akan sampai.”

FAIDAH RINGKAS DARI HADITS KE-3

[1]. Agama yang dibawakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam itu mudah. Mudah disini dengan batasan-batasan yang telah Alloh Ta’ala tetapkan, tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kadarnya.

[2]. Hanya Islam agama yang diridhai Alloh Ta’ala. Diantara kesesatan Islam Liberal yakni semua agama itu benar dan tidak boleh bagi pemeluk suatu agama untuk membenarkan agamanya. Disini seorang Muslim tidak boleh mengucapkan agama yang diridhai Alloh adalah Islam. Jelas ini merupakan bentuk penentangan terhadap ayat-ayat Alloh. Meragukan kekafiran selain Islam bisa menjerumuskan kepada kekafiran, apalagi sampai membenarkan ajaran selain Islam tersebut.

[3]. Diantara kemudahan-kemudahan di dalam Islam: sholat 5 waktu dengan jumlah rakaat paling banyak 4 rakaat, zakat dikeluarkan hanya 2,5%, puasa wajib hanya dalam satu bulan dikerjakan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dan yang sakit atau safar boleh berbuka, haji hanya diwajibkan bagi yang mampu.

[4]. Maknanya tepat disini ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak menyepelekan. Lakukan sesuatu dengan tepat dan benar. Jika sulit untuk tepat maka mendekatlah kepada kebenaran sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

[5]. Makna bergembira: sesungguhnya apabila tepat atau mendekati kebenaran maka bergembiralah dengan pahala yang melimpah dan pertolongan Alloh. Meski demikian, kadang memberi peringatan lebih bermanfaat ketika kita melihat saudara kita melakukan keharaman dan meremehkan kewajiban.

[6]. Meminta pertolongan kepada Alloh untuk mengerjakan amal di awal dan akhir siang, serta di sebagian waktu malam supaya senantiasa meminta pertolongan Alloh bagi setiap amalan yang kita kerjakan.

[7]. Sedikit demi sedikit akan sampai tujuan. Maksudnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam hendak membuat perumpamaan safar yang sifatnya maknawi dan safar yang dirasakan. Orang yang safar selayaknya melakukannya di waktu pagi atau sore, dan sebagian malam karena waktu-waktu tersebut adalah waktu yang enak terutama bagi tunggangan. Dimungkinkan juga, penyebutan pagi dan sore, karena merupakan waktunya bertasbih. Disini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar tidak menjadikan seluruh waktu kita untuk ibadah karena yang demikian bisa mengantarkan kepada kebosanan, kemudian capek, hingga akhirnya meninggalkan ibadah.

Wallohu a’lam bi showab.

2 thoughts on “Kajian Kitab Riyadhus Shalihin: Larangan Berlebih-Lebihan dalam Beramal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *