ISIS Terorisme Berkedok Jihad

Al Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh hafidzahulloh [1]
Gerakan semisal ISIS telah muncul sejak abad ke-1 Islam. Awal munculnya ISIS di Iraq dan Syam, dimana wilayah Syam terdiri dari 4 Negara yakni Palestina, Libanon, Suriah dan Jordania. Seiring berjalannya waktu nama Syam jarang digunakan sehingga gerakan ISIS di Syam lebih fokus di Suriah. ISIS mengedepankan Jihad Fii Sabilillah, menyampaikan di muka-muka umum keutamaan-keutamaan Jihad. Setiap mukmin mengimani Jihad merupakan bagian dari Islam dan puncak tertinggi amalan dalam Islam.
Gerakan ISIS tidak jauh berbeda dengan Al Qaida yang dipimpin Usamah bin Ladin, kemudian dilanjutkan Ayman Az-Zhawahiri. Setelah terjadi perselisihan internal dalam tubuh Al Qaida muncul ISIS yang bergerak di Iraq dan Suriah.

Cara-cara mengatasi ISIS dan semisalnya:
[A]. Jihad sama seperti ibadah lain, wajib dengan 2 syarat yakni ikhlas karena Alloh dan mengikuti contoh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
[B]. Jihad ada ketentuan dan syarat-syaratnya. Siapa saja yang melakukan jihad tanpa mempedulikan syarat-syaratnya (tuntunan syari’at) maka jihadnya bathil, pelakunya berdosa sekaligus tidak menghargai syari’at Islam. Di antara syarat-syarat Jihad Fii Sabilillah:
  1. Terwujudnya kekuatan fisik dan non-fisik. Kekuatan fisik meliputi jumlah tentara, persenjataan yang cukup, dan kemampuan strategi tempur.
  2. Tongkat komando yang satu. Jika komando berbilang itu merupakan bukti kelemahan atau tidak memiliki kekuatan.
  3. Jihad ditegakkan untuk menghadapi orang-orang kafir.
  4. Tidak boleh memutilasi orang-orang yang dibunuh.
Kenapa muncul gerakan semisal ISIS?
  1. ISIS tidak berbeda dengan Al Qaida, karena perselisihan internal di dalam Al Qaida. Bermula dari aqidah bahwa negara-negara muslimin saat ini seluruhnya adalah kafir. Alasan mereka negara-negara ini tidak berhukum dengan hukum Alloh.
  2. Kelompok seperti ini sudah muncul di abad ke-1 Hijriyah yang dimotori oleh kelompok Khawarij (diistilahkan dengan khawarij) yang muncul di masa khalifah Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu dimana ketika itu khawarij menghukumi pemerintahan Ali rodhiyallohu ‘anhu kafir, alasannya tidak berhukum dengan hukum Alloh.
  3. Munculnya gerakan bersenjata menentang pemerintah muslimin melalui proses yang mendahuluinya. Mereka diprovokasi lewat penyebaran kejelekan waliyyul ‘amr dimana hal ini menimbulkan bibit-bibit teroris. Salah satu cara menanggulangi bibit-bibit teroris adalah mendidik masyarakat untuk mengikuti bimbingan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam mengatasi berbagai problem.
  4. Legalisasi untuk mencela pemerintah di mimbar-mimbar melalui hadits-hadits shohih yang salah penerapannya. Diantaranya Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang jahat.” Oleh mereka diterjemahkan “kritik kepada penguasa yang jahat“, sedangkan makna sebenarnya ialah menasihati langsung di hadapan penguasa (bicara empat mata) bukan di atas mimbar di hadapan ramai orang. Sebagaimana hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Barangsiapa yang memiliki kritikan kepada pemerintah hendaknya disampaikan secara rahasia.” Apabila nasihat tidak diterima maka kita sudah menunaikan tugas.
  5. Adanya tulisan, buku, dan tokoh yang mengajarkan paham pengkafiran kepada umat Islam sehingga timbul keyakinan pemerintah dan masyarakat yang ada itu kafir. Contoh: Salah satu tokohnya ialah Sayyid Quthub. Tokoh ini punya pengaruh besar di dunia internasional dalam menanamkan paham pengkafiran. Tokoh lainnya ialah Sayyid Hawwa (Pakistan) yang menanamkan kebencian kepada pemerintah. Serta tokoh semisal Abu A’la Al Maududi, Usamah bin Ladin, dan Abu Muhammad al-Maqdisi. Turut memberikan andil juga situs-situs internet yang menanamkan paham pengkafiran.
____________________
[1]. Resume Dauroh “Mewaspadai ISIS Terorisme Berkedok Jihad” tanggal 20 Desember 2014 di Masjid Agung Cimahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *