Ikhwanul Muslimin, Sang Pelopor Mumayyi dan Fitnah Tamyi

Al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawi hafizhahulloh [1]

Dalam sejarahnya, yang pertama kali memunculkan paham tamyi (mumayi) adalah sekte Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan oleh Hasan al-Banna, seorang tokoh sufi hasofi (kebatinan ekstrem), kuburi (pengagung kuburan). Hasan al-Banna memiliki sebuah kaidah (prinsip):

“Kita saling bantu-membantu pada perkara yang kita sepakati dan kita memberi udzur (saling menghormati) kepada sebagian yang lain dalam perkara yang kita perselisihkan.”

Kaidah ini sangat berbahaya karena akan menghancurkan prinsip al-Wala wal baro’, menghancurkan prinsip tahdzir, prinsip rudud para ulama terhadap penyimpangan dan orang yang menyimpang. Dengan prinsip ini, mereka berupaya melakukan pendekatan ahlussunnah dan syi’ah. Dengan prinsip ini pula, Ikhwanul Muslimin dapat menyatukan semua penyimpangan dan kelompok menyimpang dalam organisasi mereka.

Mereka berprinsip bahwa semua adalah muslimin dan saudara kita, walaupun mereka adalah orang atau kelompok sesat seperti Khawarij, Syi’ah Rafidhah. Sikap tamyi’ (lembek) yang mereka pegangi sangat luar biasa, hingga mereka mau merangkul orang-orang kafir. Salah satu tokoh mereka yakni Yusuf al-Qaradhawi menyatakan, “Permusuhan kita dengan Yahudi bukan permusuhan agama, tetapi permusuhan persengketaan masalah wilayah dan tanah saja.”

Jangan heran kalau di Indonesia, yakni partai PKS yang dulunya mengaku sebagai partai Islam dan sekarang berubah menjadi partai nasionalis, dengan tangan terbuka mau menerima orang Hindu, Nashrani dan orang kafir lainnya.

Ketika para ulama menjelaskan kepada umat tentang penyimpangan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, di antaranya adalah Sayyid Quthub, maka bermunculanlah para tokoh mumayi’ melakukan pembelaan. Salah satu ulama yang paling banyak membantah kesesatan Sayyid Quthub adalah Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahulloh. Di antara kesesatan Sayyid Quthub adalah pemahaman dia bahwa Al Qur’an adalah makhluk, menolak sifat-sifat Alloh Ta’ala, dan mencela sejumlah shahabat seperti Mu’awiyyah, Amr bin Ash, dan shahabat lainnya.¬†Untuk membela tokoh pujaannya, para pembela Sayyid Quthub meneriakkan slogan muwazanah [2].

Bersambung, In Syaa Alloh, ke Bagian 2 tentang Manhaj Muwazanah.

_________________________
[1]. Diambil dari Majalah Fawaid edisi ke-13/II/1436H/2015 halaman 53-54 sebagai bagian dari artikel berjudul “Dahsyatnya Fitnah Tamyi'”
[2]. Mengenai apa itu arti dari muwazanah, In Syaa Alloh akan dibahas pada bagian kedua yang mengangkat tema Manhaj Muwazanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *