Hadits Nabi tentang Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz hafizhahulloh [1]

Masih dalam pembahasan Kitab Tauhid bab Balasan Orang yang Menerapkan Tauhid akan Masuk Surga Tanpa Hisab, kali ini kita akan membahas hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab.

Dari Hushain bin Abdurrahman, dia berkata: Saya pernah berada di sisi Sa’id bin Jubair. Dia (Sa’id) berkata: “Siapa di antara kalian yang melihat bintang yang jatuh tadi malam?” Hushain berkata: “Saya. Itu bukan karena saya sedang melakukan sholat (malam) namun karena saya disengat kalajengking.”

Sa’id: “Lantas apa yang kamu lakukan (setelah tersengat)?”

Hushain: “Mencari orang untuk me-ruqyah saya.”

Sa’id: “Apa yang mendorongmu melakukan itu?”

Hushain: “Hadits yang disampaikan kepada kami dari Asy-Sya’bi.”

Sa’id: “Apa yang dia sampaikan kepada kalian?”

Hushain: “Dia menyampaikan hadits kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushaib bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain atau sengatan (kalajengking dan semisalnya”.”

Sa’id: “Seorang yang mengikuti apa yang didengarkannya itu sudah bagus, akan tetapi ‘Ibnu Abbas menyampaikan hadits kepada kami dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

“Diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat ada seorang nabi yang disertai dengan satu rombongan (dibawah sepuluh orang), seorang nabi yang disertai dengan satu atau dua orang dan seorang nabi yang tidak mempunyai pengikut. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku satu kelompok yang sangat besar. Akupun menyangka bahwa mereka adalah umatku. Akan tetapi dikatakan kepadaku, ‘ini adalah Musa ‘alaihis salam beserta kaumnya.’ Lalu aku melihat suatu kelompok yang sangat besar, maka dikatakan kepadaku ‘Inilah umatmu. Bersama meeka ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tidak diadzab’.

Lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bangkit dan masuk ke rumahnya. Maka ramailah orang-orang yang membicarakan 70.000 orang itu. Ada yang berkata: ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.’ Dan ada pula yang berkata: ‘Mungkin mereka itu orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam lalu tidak mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apapun.’ Mereka juga menyebut beberapa kemungkinan yang lainnya. 

Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar. Mereka pun mengabarkan kepada beliau (tentang pendapat mereka). Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk di-ruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), tidak melakukan tathayyur, karena kuatnya mereka bertawakkal kepada Robb mereka.”

Maka ‘Ukkasyah bin Mishnan berdiri dan berkata, “Ya Rosululloh, do’akan kepada Alloh agar Dia menjadikanku termasuk dari kelompok itu.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamu termasuk dari mereka.” Lalu seseorang berdiri pula sambil berkata: “Do’akan kepada Alloh agar menjadikanku termasuk dari mereka.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ukkasyah telah mendahuluimu.”.”

[HR. Bukhari (3410), Muslim (220), At-Tirmidzi (2448), Ad-Darimi (2810), dan Ahmad (1/271)].

Hushain bin Abdurrahman ialah seorang tabi’in. Sa’id bin Jubair ialah ulama tabi’in berasal dari Ethiopia dengan ciri kulit hitam dan rambut keriting. Ia menjadi tokoh tabi’in karena semangatnya dalam menuntut ilmu kepada shahabat. Namun beliau paling lama belajar kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu bahkan posisi Sa’id bin Jubair dan Ibnu Abbas sudah seperti orang dan bayangannya.

Pertanyaan Sa’id bin Jubair tentang “bintang yang jatuh” menunjukkan perhatian shahabat dan tabi’in terhadap tanda-tanda kekuasaan Alloh Azza Wa Jalla. Di dalam hadits juga disebutkan sosok Asy-Sya’bi, dimana dia juga termasuk dari kalangan tabi’in. Apakah yang dimaksud dengan penyakit ‘ain? Yakni penyakit pandangan yang dibarengi dengan kedengkian.

Hushain mencari orang yang bisa meruqyah dirinya berdasarkan sebuah hadits dari Buraidah, dan dia telah beramal dengan dalil, meskipun ada yang lebih utama dari itu. Disebutkan pula tentang adanya seorang nabi yang hanya memiliki satu atau dua pengikut, bahkan lebih dari itu tidak memiliki pengikut sama sekali merupakan hujjah bahwa kebenaran tidak didasarkan pada banyaknya pengikut, melainkan dalil.

Lafadz Tathayyur, maknanya ialah meramalkan kesialan dengan burung. Jadi tidak melakukan tathayyur yakni tidak meramalkan kesialan dengan burung.

Makna Umum Hadits

1. Hushain menyampaikan dialog yang terjadi di majelis Sa’id bin Jubair tentang bintang jatuh di malam hari. Hushain mengabarkan telah melihatnya karena tidak tidur di malam itu, hanya saja beliau khawatir ada yang berprasangka padanya bahwa dia sedang beribadah, padahal tidak demikian.

2. Hushain menjelaskan sebab yang benar karena terkena sengatan kalajengking. Kemudian pembicaraan berpindah menjadi apa yang dilakukan Hushain setelah tersengat, dimana dia mencari orang untuk me-ruqyah dirinya.

3. Sa’id bin Jubair bertanya tentang dalil ruqyah lantas Hushain membela amal yang ia kerjakan tersebut dengan dalil. Kemudian Sa’id menjelaskan kondisi yang lebih bagus daripada yang dilakukan Hushain, yaitu meninggalkan perkara-perkara makruh sekalipun ia membutuhkannya. Hushain diminta Tawakkal dengan sebenar-benar Tawakkal kepada Alloh sebagaimana 70.000 orang yang disifatkan meninggalkan meminta ruqyah, meninggalkan pengobatan dengan besi panas, dan tidak melakukan tathayyur.

4. Mengambil sebab yang lebih utama yakni dengan Tawakkal dan tidak meminta orang lain untuk me-ruqyah dirinya.

Hubungan dengan Bab:

Sedikit penjelasan tentang makna dan pahala menerapkan tauhid, yakni masuk surga tanpa hisab.

Faidah Hadits:

1. Keutamaan generasi Salaf. Tanda-tanda di langit yang mereka lihat tidaklah mereka anggap sekedar kebiasaan (alam) namun mereka meyakininya sebagai salah satu tanda kebesaran Alloh Azza Wa Jalla.

2. Semangat generasi salaf untuk berbuat ikhlas dan upaya keras mereka untuk menjauhi riya’.

3. Meminta hujjah untuk kebenaran suatu pendapat dan perhatian generasi Salaf terhadap dalil.

4. Disyariatkan bersikap berdasarkan dalil dan beramal berdasarkan ilmu.

5. Menyampaikan ilmu dengan lembut dan hikmah.

6. Bolehnya ruqyah.

7. Bimbingan kepada orang yang akan mengamalkan sesuatu yang disyariatkan hendaklah dia mengamalkan yang lebih utama.

8. Keutamaan Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dimana diperlihatkan berbagai umat kepada beliau. Kejadian ini ketika beliau melaksanakan Isra’ Mi’raj.

9. Para Nabi berbeda-beda dalam hal jumlah pengikutnya.

10. Bantahan terhadap orang yang beralasan dengan jumlah mayoritas dan menyangka bahwa kebenaran hanya bersama jumlah mayoritas.

11. Yang wajib ialah mengikuti kebenaran sekalipun sedikit pengikutnya.

12. Keutamaan Musa ‘alaihis salam dan kaumnya.

13. Keutamaan Umat Rosululloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dan merekalah umat yang paling banyak mengikuti Nabi-nya.

14. Keutamaan dan pahala penerapan tauhid dengan sebenarnya.

15. Dibolehkannya berdiskusi dalam hal ilmu dan membahas nash-nash syari’at untuk mengambil faidah dan menampakkan al-haq (kebenaran).

16. Dalamnya ilmu generasi Salaf, dimana mereka mengetahui bahwa 70.000 orang yang disebutkan dalam hadits itu tidak akan mencapai tingkatan mulia tersebut kecuali dengan amalan.

17. Semangat generasi salaf terhadap kebaikan dan berlomba dalam beramal sholih.

18. Meninggalkan ruqyah (tidak meminta untuk di ruqyah) dan (meninggalkan) berobat dengan besi panas termasuk penerapan tauhid dengan sebenarnya.

19. Meminta do’a seorang yang lebih utama ketika dia masih hidup.

20. Salah satu tanda kenabian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam, dimana beliau mengabarkan bahwa ‘Ukkasyah termasuk dalam kelompok 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tidak diadzab. Akhirnya dia terbunuh sebagai syahid dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Semoga Alloh meridhoinya.

21. Keutamaan ‘Ukkasyah bin Mishnan rodhiyallohu ‘anhu.

22. Penggunaan kalimat halus dan keindahan akhlak Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dimana beliau tidak berkata kepada laki-laki lain, yang minta didoakan itu, “Kamu tidak termasuk dari mereka.”

23. Menutup jalan agar jangan sampai ada orang yang tidak pantas mendapatkan keutamaan tersebut berdiri (minta didoakan Rosul) kemudian dia ditolak, wallohu a’lam.

___________________________________
[1]. Faidah kajian beliau di Masjid Agung Cimahi, 14 Maret 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *