Fiqih Kurban

Al Ustadz Abu Yasir Wildan hafizhahulloh

Berikut audio kajian beliau hafizhahulloh pada tanggal 8 Dzulhijjah 1437H – 8 November 2016M di Masjid Agung Cimahi dengan tema “Fiqih Kurban”:

[48 KBPS]
Fiqih Kurban – Al Ustadz Abu Yasir Wildan 

[32 KBPS]
Fiqih Kurban – Al Ustadz Abu Yasir Wildan

[16 KBPS]
Fiqih Kurban – Al Ustadz Abu Yasir Wildan 

fiqih-kurban(web)

RINGKASAN PEMBAHASAN

A. Definisi Kurban
Udhiyyah (kurban) berasal dari kata “idhiyyah” bentuk jamak dari adhohi’ atau adhoohi. Disebut juga idhiyyah bentuk jamak dari dhohiyyah dan adhaaku asal kata dari adhaa’, disinnilah penamaan hari raya idul adha.

Udhiyyah (Kurban) ialah yang disembelih dari binatang ternak pada hari raya idul adha dengan sebabnya merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. Disebut udhiyyah karena penyembelihan dilakukan di waktu dhuha, meski bukan syarat penyembelihan harus di waktu dhuha. Penyembelihan dilakukan mulai waktu dhuha dan boleh dilaksanakan siang, sore, atau malam hari. Sehingga adanya hadits tentang larangan menyembelih di malam hari tidak bisa dijadikan hujjah karena derajatnya Dhoif.

B. Hukum Kurban.
Jumhur ulama menyebut hukum kurban adalah sunnah mu’akaddah atau sunnah yang ditekankan. Sunnah kurban setiap tahun bagi yang mampu dan makruh bagi orang yang meninggalkannya padahal dia mampu sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad rohimahulloh.

Adapun ulama yang mewajibkan dari madzab Abu Hanifah dan sebagian dari Imam Ahmad, dikuatkan oleh  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh. Alasan kewajiban ibadah kurban karena kurban ialah millahnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kita diperintahkan mengikuti millahnya beliau ‘alaihis salam disamping banyaknya hadits-hadits tentang kurban.

Meski demikian, pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yakni hukum kurban sunnah mu’akaddah, berdasarkan hadits Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha tentang larangan memotong kuku, rambut, bulu bagi orang yang hendak berkurban. Ini menunjukkan bahwa kurban adalah sesuai kehendak.

Menyembelih hewan kurban lebih utama dari shodaqoh senilai dengan hewan kurban. Kurban pada asalnya diniatkan bagi orang yang hidup. Sedangkan kurban mengatasnamakan orang yang sudah meninggal dunia terdapat khilaf di antara para ulama, ada yang membolehkan dan sebagian lagi memperinci dengan rincian sebagai berikut:

  1. Keluarga yang sudah meninggal diikutkan kepada keluarga yang masih hidup, dan ini dibolehkan.
  2. Berkurban atas nama mayit secara tersendiri. Menurut Hanabilah ini dibolehkan, namun di antara kesalahan terbesar ialah menyembelih atas nama mayit tetapi meninggalkan yang masih hidup semisal ada penyembelihan 1 tahun setelah kematian si mayit. Sehingga pendapat yang rojih ialah tidak ada udhiyyah disendirikan untuk si mayit.
  3. Dikarenakan wasiat atau nadzar dari orang yang sudah meninggal, dan ini tidak mengapa. Kurban asalnya sunnah tetapi menjadi wajib disebabkan nadzar.

 

C. Keutamaan Kurban
Di antara keutamaan ibadah kurban:

  1. Kurban merupakan syi’ar-syi’ar Alloh Ta’ala
  2. Kurban merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dimana beliau tidak hanya memerintahkan tetapi juga mengerjakan.
  3. Kurban merupakan ibadah harta yang paling afdhal, sehingga digandengkan antara ibadah kurban dengan ibadah sholat. Dua ibadah yang menunjukkan kerendahan hati atau mendekatkan diri kepada Alloh

 

D. Waktu Kurban
Dimulai setelah sholat Idul Adha sampai dengan akhir hari Tasyrik tanggal 13 Dzulhijjah. Diperbolehkan menyembelih di malam hari tetapi lebih afdhal di hari Idul Adha. Tidak sah kurban sebelum waktunya (sebelum sholat ied) dan setelah habis waktunya (setelah 13 Dzulhijjah).

E. Syarat-syarat hewan kurban

  1. Hewan kurban milik orang yang berkurban.
  2. Hewan kurban dari binatang ternak yakni unta, sapi, kambing atau domba. Adapun kerbau diikutkan kepada sapi.
  3. Hewan kurban mencapai umur yang dibolehkan secara syari’at. Sapi minimal 2 tahun, unta munimal 2 tahun, kambing minimal 1 tahun, domba minimal 6 bulan.
  4. Hewan kurban selamat dari cacat yang menghalangi sahnya seperti matanya pecak dan nampak (apalagi buta), pincang, sakit yang nampak, kurus hingga terlihat tulang-tulangnya.

 

F. Bagaimana Hewan Kurban Disembelih?
Orang yang menyembelih hendaknya orang yang mampu menyembelih dengan syarat:

  1. Berakal
  2. Muslim
  3. Menyebut nama Alloh (mengucapkan basmallah)
  4. Penyembelihan dengan benda tajam yang bisa mengalirkan darah selain kuku dan tulang
  5. Mengalirkan darah dengan memotong 2 urat besar di leher binatang yang meliputi tenggorokan, disyariatkan pula putus tenggorokan dan saluran makanan.

 

G. Adab-adab menyembelih

  1. Mengarahkan hewan kurban ke arah kiblat
  2. Unta direndahkan posisinya, diikat tangan krii, dan ditusuk lehernya
  3. Selain unta dibaringkan
  4. Memotong saluran cerna, saluran pernapasan dan 2 urat besar
  5. Tidak dilihat oleh binatang lainnya dan dijatuhkan dengan cara yang lembut.
  6. Disembelih dengan alat-alat yang tajam dan diusahakan dalam 1-2 kali sentuhan sudah terputus 2 urat besar, saluran pernapasan dan saluran pencernaan.
  7. Ketika menajamkan alat untuk menyembelih tidak terlihat oleh binatang kurban
  8. Ketika menyembelih, sebut pemilik hewan kurban dan tetap sah apabila tidak disebut nama pemilik asalkan sudah diniatkan oleh pemiliknya.
  9. Berdo’a ketika menyembelih agar diterima hewan kurbannya.
  10. Tidak boleh bagi yang berkurban menjual bagian dari hewan kurbannya, kecuali apabila sudah diberikan kepada orang lain dan orang yang diberikannya kemudian menjualnya. Tidak boleh juga memberi upah kepada jagal.

Wallohu A’lam bi showwab. 

2 thoughts on “Fiqih Kurban”

  1. pemilihan hewan kurban haruslah teliti, dan cara pemotongannyapun harus baik dan benar karena keafdolan dan kesempurnaan ibadah yang kita harapkan, semoga k

  2. pemilihan hewan kurban haruslah teliti, dan cara pemotongannyapun harus baik dan benar karena keafdolan dan kesempurnaan ibadah yang kita harapkan, semoga kurban ini membawa keberkahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *