Diutusnya Mu’adz ke Yaman untuk Mendakwahkan Tauhid (Dakwah Kepada Tauhid)

Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz hafizhahulloh [1]

Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda:

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani). Maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka ialah syahadat Laa Ilaaha Illalloh (Tidak ada sesembahan yang haq selain Alloh) –dalam riwayat lain: agar mereka mentauhidkan Alloh– [2]┬ákalau mereka telah menaatimu dalam perkara tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwasannya Alloh telah mewajibkan mereka untuk menegakkan sholat lima waktu sehari semalam. Kalau mereka telah menaatimu dalam perkara ini maka beritahukanlah kepada mereka bahwasannya Alloh telah mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka lantas diserahkan kepada fakir-fakir mereka. Kalau mereka menaatimu dalam perkara ini maka janganlah sekali-kali engkau mengambil barang berharga mereka, dan takutlah terhadap do’a orang yang terzholimi sebab tidak ada hijab antara do’a tersebut dengan Alloh (yakni: do’a tersebut dikabulkan)”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna Umum Hadits

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman untuk menjadi da’i mengajak kepada Alloh dan menjadi pengajar, maka Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam menggambarkan strategi yang akan dia tempuh dalam dakwahnya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa dia akan berhadapan dengan satu kaum yang memiliki ilmu dan suka berdebat (Yahudi dan Nashrani) agar Mu’adz bersiap-siap diskusi dengan mereka dan membantah syubhat mereka, lalu hendaklah memulai dalam dakwah dengan yang paling penting kemudian yang penting berikutnya, pertama kali menyeru manusia dengan pembenaran aqidah, sebab ini adalah pokok (mendakwahkan tauhid/dakwah kepada tauhid). Jika mereka telah tunduk dalam perkara ini, baru memerintahkan mereka agar mendirikan sholat sebab inilah kewajiban paling besar sesudah tauhid.

Apabila mereka telah mendirikan sholat, kemudian menyuruh orang-orang kaya mereka membayar zakat harta (maal) kepada kaum fakirnya dalam rangka solidaritas dan bersyukur kepada Alloh, lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memperingatkan Mu’adz rodhiyallohu ‘anhu dari mengambil harta yang teristimewa karena kewajiban hanyalah yang pertengahan. Kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memotivasinya agar berbuat adil dan meninggalkan kezholiman supaya Mu’adz tidak dido’akan keburukan atasnya oleh orang yang terzholimi sebab do’a mereka itu dikabulkan.

Faidah yang Bisa diambil dari Hadits

1. Disyari’atkannya mengutus para da’i untuk berdakwah kepada Alloh Ta’ala.

2. Syahadat Laa Ilaaha Illallooh (mendakwahkan tauhid/dakwah kepada tauhid) adalah kewajiban pertama dan merupakan materi pertama yang didakwahkan kepada manusia.

3. Makna syahadat Laa Ilaaha Illallooh ialah mengesakan Alloh dalam ibadah dan meninggalkan ibadah kepada selain Alloh.

4. Orang kafir tidak dihukumi sebagai muslim sampai dia mengucapkan dua kalimat syahadat.

5. Terkadang seseorang mampu membaca dan berilmu tetapi dia tidak mengetahui makna Laa Ilaaha Illallooh atau mengetahuinya tapi tidak mengamalkannya sebagaimana keadaan ahli kitab.

6. Berbicara dengan orang berilmu tidaklah sama dengan orang yang tidak berilmu (karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memberitahukan Mu’adz tentang orang yang akan didakwahi): “Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab.”

7. Peringatan bagi setiap orang khususnya da’i, hendaknya agar mempunyai ilmu tentang agamanya untuk membersihkan diri dari semua syubhat para pengekor fitnah dengan cara menuntut ilmu.

8. Sholat merupakan kewajiban terbesar sesudah dua kalimat syahadat.

9. Zakat merupakan rukun Islam yang paling wajib sesudah zakat.

10. Penjelasan bahwa salah satu golongan yang berhak menerima zakat (maal/harta) adalah kaum faqir dan bolehnya mengkhususkan salah satu golongan penerima zakat tanpa lainnya.

11. Tidak boleh mengambil zakat dari harta yang berharga kecuali dengan ridha pemiliknya.

12. Peringatan dari perbuatan zholim dan do’a orang yang terzholimi mustajab (dikabulkan) sekalipun dia pelaku maksiat.

__________________
[1]. Faidah transkrip ringkas dari majelis beliau di Masjid Agung Cimahi pada tanggal 8 Agustus 2015

[2]. Dakwah Kepada Tauhid/Mendakwahkan Tauhid

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *