Dakwah Kepada Tauhid adalah Jalan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Para Pengikut Beliau

Al Ustadz Abu Yahya Mu’adz hafizhahulloh [1]

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak (kalian) kepada Alloh di atas bashirah. Demikian juga orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Metode yang ditempuh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya yaitu dakwah kepada tauhid (mendakwahkan tauhid) di atas ilmu. Berilmu dulu sebelum berucap dan berbuat, karena Hizbiyyun berucap dulu baru mencari-cari dalil. Dakwahnya Nabi yakni mendakwahkan tauhid di atas ilmu, demikian pula para pengikutnya.

Makna umum ayat:

Alloh Ta’ala memerintahkan Rosul-Nya untuk memberitahukan kepada manusia tentang jalan dan sunnahnya, bahwa ia adalah dakwah mengajak kepada syahadat Laa Ilaaha Illalloh (dakwah kepada tauhid -red) berdasarkan ilmu, keyakinan, dan bukti. Begitu juga semua orang yang mengikutinya, berdakwah kepada apa yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dakwahkan berdasarkan ilmu, keyakinan, dan bukti. Dan bahwa Rosululloh dan semua pengikutnya mensucikan Alloh dari sekuti, baik dalam kerajaan-Nya maupun peribadatan kepada-Nya, serta berlepas diri dari orang yang berbuat syirik terhadap-Nya sekalipun dia adalah kerabat terdekat.

Faidah yang bisa diambil dari ayat:

1. Berdakwah kepada syahadat Laa Ilaaha illallooh (dakwah kepada tauhid) adalah jalan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau.

2. Setiap da’i wajib berilmu tentang apa yang dia dakwahkan dan apa yang dia larang.

3. Peringatan untuk ikhlas dalam berdakwah, dimana tidak ada tujuan da’i selain mengharap wajah Alloh (ikhlas), bukan bertujuan untuk mendapatkan harta, kedudukan, pujian manusia atau mengajak kepada partai dan madzhab (aliran) tertentu.

4. Bashirah adalah wajib, karena mengikuti Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam hukumnya wajib dan tidak mungkin terealisasi (terwujud) dengan benar kecuali dengan bashirah, yakni ilmu dan keyakinan.

5. Keindahan tauhid karena ia merupakan pensucian bagi Alloh Ta’ala.

6. Buruknya syirik karena ia merupaka celaan terhadap Alloh.

7. Kewajiban seorang muslim untuk menjauhkan diri dari kaum musyrikin dan tidak bergabung dengan mereka dalam hal apapun. Maka tidak cukup bagi seorang muslim bahwa dirinya tidak berbuat kesyirikan.

____________________________
[1]. Faidah ringkasan transkrip dari majelis beliau pada hari Sabtu, 8 Agustus 2015, di Masjid Agung Cimahi. Pembahasan Kitab “Mulakhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *