Bahaya Tasyabbuh

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahulloh

Berikut audio kajian beliau hafizhahulloh di Masjid Agung Cimahi pada hari Sabtu, 26 Shafar 1438H – 26 November 2017M pembahasan kitab “KItab Iqtidha Ash-Shirath al-Mustaqim” dengan tema “Bahaya Tasyabbuh”

[16 KBPS]
Bahaya Tasyabbuh – Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf

[24 KBPS]
Bahaya Tasyabbuh – Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf

[32 KBPS]
Bahaya Tasyabbuh – Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf

bahaya-tasyabbuh-1438

RINGKASAN PEMBAHASAN

Permintaan sebagian shahabat yang baru masuk Islam kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam agar dibuatkan pohon sebagaimana pohon Dzattu Anwath milik kafir Quraisy yang akan digunakan untuk menggantungkan senjata, tujuannya agar bisa memberi manfaat waktu Perang Hunain. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam kemudian memberi peringatan kepada mereka tentang bahaya tasyabbuh yakni meniru kebiasaan orang-oran kafir. Disini kita bisa mengambil pelajaran bahwa orang yang baru masuk Islam rentan terjatuh ke dalam kesalahan karena mereka dalam keadaan jahil ketika baru masuk Islam sehingga harus mempelajari agama Islam secara kaffah.

Tercelanya perbuatan Tasyabbuh dan termasuk dalam kemungkaran. Seseorang mengetahui perkara ma’ruf dan mengingkari kemungkaran jauh lebih baik daripada orang yang tidak mengetahui perkara ma’ruf dan tidak mengetahui kemungkaran, siapapun masuk dalam kondisi demikian berarti hatinya telah mati. Pelajaran yang bisa diambil disini ialah kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dan ini adalah keunggulan umat Islam. Tetapi amar ma’ruf nahi munkar tidak bisa dilakukan sembarangan, harus dengan ilmu dan tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

Adanya bukti di dalam Kitab Suci Al Qur’an tentang Perilaku Tasyabbuh, meniru Yahudi dan Nashrani sebagaimana Firman Alloh Ta’ala dalam Surat Al Baqarah 104:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa`ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” 

Firman Alloh Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًۭا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh, kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al An’am: 159)

Dan Firman Alloh Azza Wa Jalla:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali Imroh: 159)

Wajib menampakkan sikap berlepas diri dari Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan karena Islam adalah agama yang tidak pernah usang. Dari awal sampai akhir zaman tetap baru, tidak bergeser kemanapun dan selalu sesuai dalam segala perkembangan zaman..

Wallohu A’lam bi Showab. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *