Amar Maruf Nahi Munkar Salah Satu Ciri Sebaik-Baik Umat

Al Ustadz Abu Suheb hafizhahulloh

Berikut audio rekaman dars beliau hafizhahulloh pada tanggal 15 Robi’ul Awwal 1436H – 27 Desember 2015 di Masjid Al Husaeni, Kompleks PT. Mitra Rajawali Banjaran (depan Papyrus) Jalan Raya Banjaran Kabupaten Bandung dengan tema “Amar Maruf Nahi Munkar Salah Satu Ciri Sebaik-Baik Umat”:

[32 KBPS]
Amar Maruf Nahi Munkar Salah Satu Ciri Sebaik-Baik Umat
—– Al Ustadz Abu Suheb

[16 KBPS]
Amar Maruf Nahi Munkar Salah Satu Ciri Sebaik-Baik Umat
—– Al Ustadz Abu Suheb

PENJELASAN RINGKAS

[1]. Firman Alloh Ta’ala:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang maruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar (amar maruf nahi munkar –red) dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157)

[2]. Firman Alloh Ta’ala

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar (amar maruf nahi munkar -red), dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

[3]. Setiap kebaikan yang dilakukan oleh para shahabat bermanfaat bagi manusia yakni selalu memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran (amar maruf nahi munkar). Mereka selalu bersama dalam berdakwah dan berjihad, sehingga akan datang pertolongan dari Alloh Ta’ala, dan pertolongan tersebut tidak akan datang apabila tidak melaksanakan amar maruf nahi munkar.

[4]. Para shahabat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan berjihad di jalan Alloh dengan diri dan harta mereka, tidak merasa berat atau rugi ketika mereka berjihad mengeluarkan harta dan tenaga. Umat sebelum Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam belum diperintahkan untuk amar maruf nahi munkar dan tidak berjihad diatas itu. Bahkan di antara mereka ada yang tidak berjihad di jalan Alloh Ta’ala, seperti Bani Israil yang keumuman jihadnya hanya mencegah musuh dari negeri-negeri mereka.

[5]. Firman Alloh Ta’ala: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Alloh bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Alloh) yang Alloh telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Alloh hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.” Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al Maaidah: 21-24)

[6]. Firman Alloh Ta’ala:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Alloh”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Alloh, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Alloh Maha mengetahui orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Baqarah: 246)

Alasan Bani Israil ikut berperang karena telah diusir dari kampung halamannya, bukan untuk amar ma’ruf nahi munkar dan bersama ini terbukti mereka mundur karena takut dari apa yang diperintahkan dengannya dan berjihad di jalan Alloh. Tidak dihalalkan bagi mereka ghanimah (harta rampasan perang) dan tidak memiliki kekuatan. Inilah keadaan umat-umat sebelum Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak diperintahkan untuk berjihad di jalan Alloh dan amar maruf nahi munkar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *